Eka Oktarianti, yang biasa disapa Rian, adalah seorang perempuan yang berasal dari sebuah daerah di Sumatera Barat bernama Payakumbuh. Sosoknya begitu inspiratif dengan semangat dan kegigihannya sebagai seorang dokter hewan. Di tahun 2012, ia mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dengan program beasiswa dalam negeri dari USAID. Berkat program tersebut, ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya di program Sain Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di tahun 2014. Setelah lulus, ia kembali ke dunia kerja dan mengabdi kepada masyarakat dengan bekal keahlian di bidang kedokteran hewan. Dari program beasiswa tersebut, ia merasakan banyak sekali manfaat, “Yang pasti, kapasitas dan pengetahuan saya di bidang kedokteran hewan meningkat, terutama tentang epidemologi. Sehingga, banyak ilmu yang dapat saya aplikasikan di dinas tempat saya bekerja”.

Sejak bulan November 2019 ini, Rian mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat. Sebelumnya, ia bekerja sebagai Kepala UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota selama empat tahun. “Saat itu saya banyak bekerja di lapangan, berhubungan langsung dengan masyarakat dan peternak. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan hewan, saya juga melakukan penyuluhan atau sosialisasi program pemerintah, serta meningkatkan pemberdayaan atau peran aktif masyarakat”, tuturnya. Ia juga bergabung dengan rekan-rekan dokter hewan lainnya dalam Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Kegiatannya pun tidak jauh beda dengan pekerjaan kedinasan yang sekarang sedang dijalaninya. Rian juga membuka praktek di luar kerja yang lebih banyak menangani hewan besar, seperti kuda dan sapi.

Selain bekerja sebagai dokter hewan, menulis karya ilmiah menjadi hobi yang disukainya. Tahun lalu, ia mendapat sponsor dari ALPHA-I untuk mengikuti seminar di Chiang Mai, Bangkok. Karya tulisnya juga pernah diseminarkan di Malaysia dan disponsori oleh USAID. Namun di balik itu, ia juga menghadapi beberapa tantangan. “Selama ini, dinas saya belum melakukan analisa terhadap hasil capaian secara ilmiah atau epidemologi. Ketika selesai kuliah, ada banyak tulisan ilmiah yang saya hasilkan dan dipublikasikan di dalam maupun di luar negeri. Saya juga memiliki keinginan untuk melakukan banyak riset, tapi sayangnya terkendala dengan pendanaan. Sehingga, saya hanya melakukan yang sudah terprogram oleh dinas saja”, jelasnya.

Walaupun banyak tantangan yang harus Rian hadapi, ia memiliki semangat yang tinggi untuk tetap berkarya. Ia percaya bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan seperti yang ia dapatkan. Rian juga berpesan kepada rekan-rekan yang sedang menjalani program beasiswa untuk menggunakan kesempatan menimba ilmu itu dengan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya, “Selesai studi, kita tidak hanya membawa pulang ijazah tetapi juga banyak impian besar untuk berbuat lebih banyak. Ketika berada di dunia kerja, tak jarang kenyataan yang terjadi tidak seperti yang kita inginkan, bahkan kita mungkin tidak diberi kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Namun, tetaplah berpegang pada mimpimu. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Karena di dalam lumpur sekalipun, mutiara akan tetap memancarkan sinarnya. Jadilah mutiara!” (Penulis: Putri Fremelia Muli)