Kota Ambon sebagai Ibukota Provinsi Maluku telah berkembang menjadi kawasan yang penting dan strategis di wilayah Timur Indonesia. Kota Ambon sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dengan aktivitas sosial, ekonomi, pemerintahan, dan pendidikan di Provinsi Maluku, membawa pengaruh pada pertumbuhan penduduk, termasuk migrasi dari daerah-daerah sekitar yang berdampak kepada jumlah penduduk dengan kepadatan 1.033 jiwa/Km2.

Untuk mengukur tingkat kemajuan perekonomian di Kota Ambon, salah satu indikator penting yang digunakan adalah pertumbuhan ekonominya. Dinamika aktivitas ekonomi di Kota Ambon yang pesat telah berdampak pada munculnya aktivitas perdagangan dan jasa, khususnya usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah (UMKM) yang membutuhkan tempat usaha yang memadai sehingga bila tidak ditata dengan baik mengakibatkan ketidakteraturan dan kemacetan lalu lintas karena tidak adanya ruang parkir serta berdampak pada pencemaran lingkungan serta menampilkan kesan kumuh dan kotor.

Kawasan Pantai Mardika adalah salah satu pusat distribusi dan pusat aktivitas ekonomi utama di Kota Ambon. Pada kawasan ini terdapat pasar berskala kota dan regional, terminal angkutan, pusat pertokoan, dan dermaga lokal untuk speed boat di bawah 7 gross ton (GT). Seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian Kota Ambon, Pasar Mardika di kawasan Pantai Mardika saat ini sudah tidak dapat lagi menampung semua aktivitas para pedagang yang berjumlah 3442 (data tahun 2019) dan diprediksikan akan mengalami kenaikan sebesar 30% pada tahun 2024 menjadi 4475 pedagang.

Pasar Mardika saat ini tampak sangat kumuh, kotor, dan becek di saat hujan karena tidak berfungsinya beberapa jaringan drainase, serta bau yang menyengat akibat sampah basah yang menumpuk pada jam-jam tertentu. Banyak pedagang kaki lima yang menggunakan trotoar, badan jalan, area parkir pasar, maupun area terminal untuk melakukan aktivitasnya. Banyak bangunan liar yang di bangun di atas permukaan laut di sepanjang kawasan Pantai Mardika dan digunakan sebagai tempat untuk melakukan transaksi perdagangan sekaligus sebagai tempat tinggal. Selain itu banyak sampah berserakan dan berceceran di Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS) menunggu untuk diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan beragamnya aktivitas ekonomi saat ini telah memicu kemacetan, ketidakteraturan lalu-lintas, dan menciptakan masalah-masalah lingkungan seperti masalah pengelolaan limbah pasar.

Pemerintah Kota Ambon telah berupaya secara bertahap mengatasi ketidaktertiban di Pasar Mardika dengan harapan dapat memperlancar arus distribusi barang dan jasa, meningkatkan keamanan dalam bertransaksi, kenyamanan dalam berbelanja, dan kemudahan pertemuan antara pedagang dan pembeli, serta sehat bagi semua pihak yang berada di dalam pasar. Kios-kios non permanen pun telah dibangun di sebagian pesisir pantai Pasar Mardika mengikuti konsep perencanaan tahun 2011/2012 dan telah disediakan halaman parkir serta pengaturan sebagian area terminal untuk mengurangi aktivitas para pedagang yang berjualan di badan jalan. Namun hal ini justru memicu masalah baru yaitu kios-kios tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sedangkan aktivitas perdagangan dilakukan pada jalan raya.

Tahun 2020 mendatang, Pemerintah Kota Ambon akan merevitalisasi peran dan fungsi Pasar Mardika secara holistik untuk menampung aktivitas di pasar tersebut. Proses revitalisasi ini merupakan dukungan yang ditunjukan oleh Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo, terhadap pemerintah dan masyarakat Maluku melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Melalui pembangunan atau revitalisasi ini akan diupayakan penataan dan pengelolaan pasar yang lebih modern, baik dari segi penanganan limbah, ketersediaan parkir yang proporsional, ketersediaan ruang terbuka hijau, kajian lingkungan hidup yang matang, maupun manajemen pasar yang tertib.

Proses merevitalisasi Pasar Mardika sesuai dengan Pasal 22 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 37/M-DAG/PER/5/2017 dimana revitalisasi dapat dilakukan melalui pembangunan fisik, revitalisasi manajemen, revitalisasi ekonomi, dan revitalisasi sosial budaya. Untuk pembangunan fisik perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya kemudahan akses transportasi, SNI Pasar Rakyat serta ketentuan mengenai kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan (K3LH). Untuk revitalisasi manajemen perlu memperhatikan manajemen pengelolaan pasar, pemberdayaan pelaku usaha, SNI Pasar Rakyat dan pedoman operasional seta bahwa barang yang diperdagangkan bebas dari bahan berbahaya. Revitalisasi ekonomi terdiri dari kepastian stabilitas harga dan akses terhadap pasokan barang. Sedangkan revitalisasi sosial budaya berupa penyediaan ruang terbuka untuk interaksi sosial, pemanfaatan produk lokal, pasar sebagai tempat untuk menampilkan budaya daerah serta kearifan lokal dan adanya pembinaan terhadap pedagang kaki lima.

Sebelum tahap pembangunan/revitalisasi pasar dimulai, perlu adanya beberapa tahapan perencanaan yang harus segera dikerjakan pada tahun 2019 yaitu pembuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALALIN), serta pembuatan Detail Engineering Design (DED) yang meliputi gambar arsitektur, struktur, lansekap, dan mekanikal elektrikal. Pada tahap perencanaan ini juga seharusnya telah dibuat Bill of Quantity (BOQ), rencana kerja, dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis.

Selain persyaratan teknis, revitalisasi Pasar Mardika juga harus memenuhi persyaratan administrasi berupa legalitas lahan, memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) serta perizinan lain yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang direkomendasikan di dalam perencanaan revitalisasi Pasar Mardika:

Pertama, visualiasi arsitektur bangunan. Walaupun pasar ini adalah pasar tradisional dimana pembeli dan penjual dapat bertemu dan melakukan transaksi secara langsung, tetapi desain bangunan diharapkan akan lebih modern dengan dipadukan material terkini serta tetap memperhatikan kesatuan dengan bangunan pertokoan di lingkungan sekitar dan adanya pemanfaatan udara serta cahaya melalui ventilasi dan skylight. Konsep arsitektural lokal berupa ornamen Maluku sebagai bagian dari kearifan lokal dapat diterapkan pada bangunan pasar. Bentuk bangunan pasar yang ideal adalah berbentuk persegi empat mengikuti bentuk tapak karena bentukan ini akan memudahkan alur masuk keluar barang dan transportasi menuju dan keluar dari pasar, serta memaksimalkan daya tampung pasar terhadap jumlah pedagang yang ada.

Kedua, kekuatan struktur bangunan. Pasar Mardika berada di tepi Pantai Mardika dan dekat dengan dua buah sungai sehingga perlu dilakukan pengujian daya dukung tanah untuk membuat perencanaan pondasi dan struktur bangunan lainnya yang sesuai dengan SNI Bangunan dan Gedung dan SNI Bangunan Tahan Gempa.

Ketiga, aksesibilitas pasar. Bangunan pasar harus bisa dijangkau dengan mudah oleh pengunjung baik dengan dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan roda dua maupun empat. Parkiran pun harus ditata agar pembeli bisa mencapai kendaraannya dengan mudah sebelum dan sesudah berbelanja. Untuk pedagang pun perlu disediakan tempat bongkar muat barang yang memadai. Area parkir perlu dipisahkan dengan area jualan sehingga ada ketertiban di dalam melakukan aktivitas jual dan beli di area pasar.

Keempat, penataan kios dan los di dalam pasar. Penataan los di dalam pasar memerlukan pemisahan antara area basah dan kering. Untuk tempat berjualan ikan, daging, dan sayur perlu disediakan air bersih sehingga proses pembersihannya steril dari bakteri sehingga layak dikonsumsi masyarakat. Jumlah kios dan los di dalam pasar perlu disesuaikan dengan prediksi kebutuhan tempat berjualan minimal lima tahun ke depan berdasarkan data jumlah pedagang saat ini.

Kelima, fasilitas pasar. Fasilitas dan sarana prasarana pasar yang dibutuhkan antara lain parkiran motor dan mobil, ruang terbuka hijau, air bersih, ground reservoir dan roof tank, drainase/saluran, Tempat Penampungan sampah Sementara (TPS), tempat pengolahan limbah, toilet, loading dok, tangga/eskalator/lift, los-los, kios-kios, ruang pompa, genset, panel, dan trafo.

Dengan perencanaan dan didukung pengawasan yang baik, maka pembangunan fisik, revitalisasi manajemen, revitalisasi ekonomi, dan revitalisasi sosial budaya dapat tercapai. Pada akhirnya Pasar Mardika akan menunjang Kota Ambon sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan menjadi ikon bagi masyarakat Maluku di masa mendatang.