Berat tubuhnya jauh dari ideal untuk anak seumurnya yaitu delapan tahun hanya 20 kg. Dia sering mengeluh sakit di pundaknya membawa bertumpuk buku di dalam tas, serta merasa lelah dan letih ketika tiba di rumah dimana biasanya jam sudah menunjukkan pukul tiga sore sejak dia berangkat sekolah pukul tujuh pagi. Begitulah keseharian anak pertama saya, sebut saja Yasmin, yang saat ini sedang menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) kelas 3 di sekolah swasta di Bogor-Jawa Barat. Selama sekolah di sana, dia selalu konsisten mempertahankan peringkat pertama di kelasnya sejak kelas satu SD. Perjuangannya tidak diperolehnya dengan mudah. Enam hari dalam seminggu dia harus rajin belajar di sekolah dan melanjutkan pekerjaan rumah (PR) malam harinya yang hampir diberikan setiap saat oleh gurunya di sekolah.

Saya sebagai orang tua tentu saja bangga atas prestasi akademik anak saya selama ini. Namun, juga sedih memperhatikan investasi waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk anak seumurnya, yang seharusnya masih dapat menikmati masa kanak-kanaknya. Setidaknya ada 12 mata pelajaran setiap minggunya yang harus dipelajari oleh Yasmin dari Senin hingga Sabtu. Perlu saya sebutkan satu per satu mata pelajaran tersebut sebagai informasi bagi orang tua lainnya yaitu, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan, Bahasa Sunda, Pendidikan Lingkungan Hidup, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Pendidikan Kewarganegaraan, IPS, dan Seni Budaya Ketrampilan. Pagi sampai siang Yasmin menghabiskan waktu di sekolahan. Setelah itu dilanjut dengan les wajib mata pelajaran, serta kadang sorenya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang beberapa diantaranya wajib diikuti di sekolahan.

Tidak berhenti sampai disitu, malam harinya Yasmin harus mengerjakan tugas PR yang diberikan oleh gurunya. Paling tidak membaca pelajaran untuk besok harinya sekitar 15 menit bahkan lebih untuk setiap mata pelajaran. Lantas pertanyaannya, kapan anak saya bermain sepeda di lapangan dekat rumah, membantu ibunya memasak atau menyiapkan makanan, membaca komik atau mendengar cerita anak-anak dari ayahnya?  

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, sebagian besar menunjukkan hampir tidak ada dampak positif dengan diberikannya PR kepada siswa. Salah satu yang ahli itu ialah Harris Coopers, seorang profesor psikologi dan Direktur Program Pendidikan di Universitas Duke Amerika Serikat yang sudah malang-melintang mempelajari dan menganalisa PR selama lebih dari 25 tahun. Dalam bukunya yang berjudul The Battle over Homework: Common Ground for Administrators, Teachers, and Parents menjabarkan hubungan PR dengan kesuksesan bahwa untuk tingkatan SD, PR sangat tidak bermanfaat untuk diberikan ke siswa karena dapat memberikan dampak negatif terkait perilaku mereka, seperti tidak senang dalam belajar atau bahkan membeci sekolah. Selain itu, menurut Coopers, hubungan orang tua dan anak dapat memburuk atau menimbulkan pertengkaran kecil, selain berkurangnya waktu anak-anak untuk bermain atau tidur lebih lama yang senada ditulis oleh, Sara Bennett-seorang pengacara dan Nancy Kalish-seorang penulis dan editor pendidikan, dalam bukunya yang berjudul The Case Against Homework: How Homework is Hurting Our Children and What We Can Do About It. Masih banyak peneliti lainnya yang mengamini dampak kurang baik dari diberikannya PR kepada siswa terkait perilaku buruk dan persepsi negatif yang ditimbulkan, seperti Epstein (1988), Leone & Richards (1989), dan Vazsonyi & Pickering (2003).

Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu berkaca pada sistem pendidikan di negara lainnya khususnya untuk tingkat SD. Di Inggris, hanya enam mata pelajaran yang diajarkan untuk siswa SD, yaitu reading, writing, speaking, listening, Math dan Science. Jumlah ini hanya setengah dari mata pelajaran yang diperoleh Yasmin setiap minggunya. Tidak hanya itu, beberapa sekolah di sana memperkenankan siswa untuk tidur di sekolah selama 25-30 menit dimana hal ini bermanfaat untuk meningkatkan daya serap otak mereka. Finlandia juga serupa. Tidak ada PR dan standar nilai ujian di dalam sistem pendidikan SD mereka. Negara ini menekan adanya persaingan antar murid dengan harapan mereka dapat lebih senang untuk belajar walaupun hanya dengan 5 jam pelajaran setiap harinya. Hal yang sama juga diterapkan di Selandia Baru. Mata pelajaran yang diajarkan hanya lima mata pelajaran untuk siswa SD yaitu, Matematika, Bahasa Inggris (membaca dan menulis), Ilmu Pengetahuan (sains), Seni Budaya, dan Olah Raga-Kesehatan. Jelas terlihat perbedaannya antara beban pekerjaan di sekolah untuk anak SD di Indonesia dengan negara-negara tersebut di atas.

Pemerintah Indonesia saat ini sebenarnya juga telah menganjurkan bahwa PR tidak harus berupa tugas yang berhubungan dengan mata pelajaran. PR bisa berupa tugas  untuk membantu orang tua di rumah seperti membantu memasak atau membersihkan rumah, menjenguk teman atau tetangga yang sedang sakit, atau disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Beberapa pemerintah daerah di Indonesia bahkan sudah melarang guru-guru untuk memberikan PR kepada siswanya, seperti Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi sewaktu Ia masih menjabat. Dedi Mulyadi menerbitkan surat edaran Nomor 421.7/2016/Disdikpora untuk memberikan tugas kreatif produktif sebagai pengganti PR.  Tahun 2018 ini, Dinas Pendidikan Kota Blitar dan Kota Depok juga mempunyai kebijakan larangan untuk memberikan PR kepada siswanya agar mereka dapat memiliki lebih banyak waktu belajar mengenai pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan masyarakat sesuai dengan amanah UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa anak punya hak untuk berkumpul, bermain bersama keluarga dan teman, mengeluarkan masukan dan pendapatnya.     

PR bukan menjadi satu-satunya tantangan atau mungkin hambatan siswa untuk memiliki banyak waktu luang saat ini. Kebijakan enam hari dalam sepekan pun juga masih diterapkan di beberapa sekolah meskipun sudah jelas adanya payung hukum yang mengatur mengenai hari sekolah. Peraturan Mendikbud Nomor 23/2017 sudah menegaskan bahwa kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan resmi diterapkan pada tahun ajaran 2017-2018. Sekolah negeri maupun swasta wajib menggelar kegiatan belajar mengajar selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu yang diselenggarakan Senin hingga Jumat atau yang sering disebut full day school.

Catatan di atas mengenai beban PR pada siswa serta polemik hari sekolah mungkin sudah pernah terdengar di telinga kita sebelumnya melalui pemberitaan di media massa  atau melalui bincang-bincang para orang tua ketika menunggu anaknya di sekolah. Bersamaan dengan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli sejak tahun 1984, ada baiknya kita bersama-sama untuk turut memperbaiki dan memajukan aspek perlindungan anak. Hal ini selaras dengan tema yang diangkat pada tahun ini yaitu “Peran Keluarga dalam Perlindungan anak” dimana pentingnya perlindungan bagi anak-anak untuk memperoleh hak untuk hidup bahagia, hak untuk mengenyam pendidikan yang layak, dan hak untuk bermain dengan teman atau keluarganya. Lantas mau sampai kapan perampasan hak anak SD terus terjadi di beberapa sekolah di Indonesia? Kita hanya bisa diam saja menunggu konsekuensi besar yang akan dihadapi dari fenomena gunung es ini, atau akan beranjak untuk berdiri memperjuangkan hak mereka selain hanya belajar di sekolah ataupun belajar formal di kelas?

Selamat memperingati Hari Anak Nasional tahun 2019, semoga kita benar-benar dapat mewujudkan bersama “Kita Anak Indonesia, Kita Gembira”.