Share to your social network

Safarudin berasal dari Palu – Sulawesi Tengah. Dia saat ini sedang mengejar studinya di Pharmacoepidemiology di Departemen Sistem Farmasi dan Kebijakan Sekolah Farmasi di West Virginia University. Dia terinspirasi untuk mengambil bidang studi tersebut karena Indonesia, sebagai salah satu negara tropis dengan penyakit yang unik dan beragam serta karakteristik pasien yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, masih satu langkah di belakang di bidang penemuan obat baru dan terapi obat evaluasi. Ia sangat berharap dapat memberikan kontribusi dalam penemuan obat dan evaluasi terapi terutama yang berkaitan dengan infeksi dan penyakit kronis seperti kanker, yang pada akhirnya akan membuat Indonesia bisa memperkaya dunia penelitian tentang Kedokteran Berbasis Bukti.
.
Safarudin meraih gelar sarjana dan gelar profesional di bidang Farmasi dari Universitas Hasanuddin serta dua master dalam Farmasi Klinis dan Epidemiologi Klinis dari Universitas Indonesia. Sebelum penghargaan Fulbright, ia bekerja sebagai dosen di Farmakologi dan Farmasi Klinis, Departemen Farmasi, Universitas Tadulako di Palu – Sulawesi Tengah.
.
Ini salah satu riset yang di hasilkan oleh Safarudin “ Abstrak. Beberapa bukti menunjukkan perubahan metabolik pada pasien kanker payudara dengan indeks massa tubuh (IMT) tinggi berhubungan resistansi insulin dan khususnya perubahan terkait produksi sitokin oleh jaringan adiposa yang merupakan kontributor utama terhadap sifat agresif dari kanker payudara yang berkembang melalui pengaruhnya terhadap angiogenesis dan stimulasi kemampuan invasif dari sel kanker. Studi kohort retrospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Kanker Dharmais ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh IMT terhadap disease-free survival (DFS) lima tahun pasien kanker payudara.
.
Penelitian ini dilakukan dari Agustus sampai November 2014. Sampel yang digunakan pada studi ini diambil secara konsekutif sebanyak 127 pasien. Dari studi ini, diketahui bahwa DFS lima tahun pasien kanker payudara adalah 70,0%. Berdasarkan kategori IMT, pasien kanker payudara dengan IMT tinggi (>22,9 kg/m2) memiliki DFS lima tahun yang paling besar, yaitu 75,5% ; diikuti pasien dengan IMT rendah (<18,5 kg/m2) sebesar 68,6%; dan 60,4% untuk pasien dengan IMT normal (18,522,9 kg/m2). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa IMT tidmemiliki asosiasi dengan kejadian kekambuhan atau metastase (HR=1,052, 95% CI 0,413-2,678) setelah dikontrol oleh variabel pendidikan, sosioekonomi, stadium, keterlibatan kelenjar getah bening, histopatologi, pekerjaan, dan subtipe biologis.”

No votes yet.
Please wait...