Share to your social network

Tak dapat dipungkiri, nilai profesi kedokteran saat ini telah jauh menurun dibanding beberapa dekade lalu. Hal ini diakibatkan oleh sistem kapitalisme pasar yang telah meruyak jauh hingga sendi-sendi pendidikan kedokteran negeri ini dan mendegradasi peran klasik dokter dari “kapten kapal” tim medis menjadi “buruh” pabrik di institusi-institusi kesehatan (Stoeckle, 1987).

Terbongkarnya kasus percaloan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas beberapa waktu lalu merefleksikan paradigma masyarakat kita yang masih memandang dokter sebagai profesi pengumpul uang dan kaya raya. Paradigma tersebut turut memicu gubernur di setiap provinsi untuk berlomba-lomba membuka fakultas kedoktran (FK) di daerah masing-masing.

Padahal menurut Kepala Badan PPSDM Kementerian Kesehatan Usman Sumantri, jumlah 116 ribu dokter Indonesia sudah memenuhi standar rasio yang ditetapkan oleh badan kesehatan dunia WHO (Tempo, 7/1/17). Ibarat pabrik, proses “produksi massal dokter” ini jelas membawa konsekuensi pada mutu lulusannya.

Dari 83 FK yang ada di seluruh Indonesia, hanya 55 persen yang bermutu standar. Selebihnya berakreditasi C (Kompas, Mei 2016). Tanpa disadari pula, proses tersebut juga menggerus nilai-nilai (values) yang semestinya melekat pada setiap lulusan sekolah elit ini.

Sudah jamak kita mendengar tentang sikap para dokter yang terkadang tak manusiawi terhadap pasiennya dan tak lagi mengindahkan etika profesi kedokteran. Agar seorang dokter tampak dan bersikap lebih manusiawi, ia mesti menguasai ilmu komunikasi selaku kunci hubungan antarmanusia (Frankel,2009).

Pelbagai literatur juga menyebutkan komunikasi dokter yang baik akan menghasilkan hasil terapi yang lebih sempurna (Stewart et al, 2000), mengurangi stress dan problem non-fisik pasien (Roter et al, 1995) serta meningkatkan tingkat kepuasan pasien akan layanan yang didapatkannya (Flocke et al, 2003).

Sayangnya, seperti ilmu-ilmu humaniora lainnya yang dipandang sebelah mata, ilmu komunikasi belum mendapatkan tempat yang layak di dalam kurikulum pendidikan kedokteran.

Yang diajarkan di FK saat ini hanyalah blok kursus tentang komunikasi dokter terhadap pasien semata.

Mereka tak dipersiapkan untuk berkomunikasi dengan media massa, direktur rumah sakit ataupun dengan komponen masyarakat luas yang dilayaninya.

Padahal sekolah-sekolah kedokteran di luar negeri semisal Harvard Medical School dan Yale Medical School telah memasukkan kuliah-kuliah komunikasi dan negosiasi ke dalam kurikulumnya (New York Times, 2014).

Tentu saja sikap manusiawi tak cukup. Dokter mesti ‘berisi’ dan punya nalar akademik sebagai dasar ilmiah dalam melakukan suatu layanan kedokteran.

Perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran sedemikian pesat pada milenium ini sehingga mau tak mau dokter harus memperbaharui keilmuannya agar tak tertinggal arus.

Hal ini segaris dengan salah satu pasal Kode Etik Kedokteran yang berbunyi: “Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran kesehatan”.

Dengan kata lain, profesi ini harus berwawasan luas dan terbuka terhadap hal-hal yang baru.

Tak ada gunanya jika seorang dokter yang telah menjalankan dua nilai di atas, namun tak membawa berkah bagi pasien dan orang-orang di sekelilingnya.

Ibarat pohon kelapa yang hampir semua bagian tubuhnya dapat termanfaatkan, seseorang yang berprofesi sebagai dokter hendaknya berakhlakul karimah yaitu bersikap baik kepada sesama dan ikhlas mengabdikan diri bagi kemaslahatan umat manusia.

Nilai yang terakhir ini yang menjadi pondasi utama sosok penyembuh paripurna yang didambakan khalayak luas.

Tiga nilai profesi tersebut di atas (manusiawi, nalar akademik dan berakhlakul karimah) dirangkai oleh seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar menjadi konsep “Dokter Mannaba”.

Dalam bahasa Makassar, mannaba kurang lebih berarti cocok, pas dan sangkil. Nilai-nilai yang seharusnya menjadi pedoman setiap lulusan FK dalam menjalankan praktik kedokteran.

Sang pencetus, dokter Muhammad Andry Usman SpOT, pun mengingatkan bahwa “Mannaba adalah sebuah konsep pelengkap Kode Etik Kedokteran yang terus mengingatkan setiap dokter akan pengabdian tulus mereka terhadap Allah SWT dan umat manusia..” ( Muhammad Hatta)

No votes yet.
Please wait...